Kolom

Halaman ini berisi tulisan-tulisan kontribusi Hijau Lestari dan penggiat lingkungan hidup.

Pembagian Tabungan nasabah Bank Sampah

diposting pada tanggal 4 Jul 2017 00.53 oleh Info Hijau Lestari   [ diperbarui 26 Feb 2018 22.34 oleh Shinta Ratna Dewi ]

Siapa sangka, rajinnya aktivitas memilah sampah dan menyetorkannya ke bank sampah, ternyata seorang ibu bisa menikmati kebahagiaan memiliki uang tabungan 1 juta-an rupiah!  Ini terjadi di salah satu unit bank sampah Hijau Lestari di Kelurahan Dago.

Setiap akan memasuki bulan Ramadhan, para nasabah mulai mengambil tabungannya. Bank Sampah Induk Hijau Lestari Kota Bandung untuk tahun ini berhasil mengelola sampah anorganik senilai 230 juta rupiah lebih, wow! Sampah-sampah ini terkumpul ini berasal dari unit-unit yang tersebar di 130 titik se-Kota Bandung, dengan tiap unit memiliki nasabah rata-rata sejumlah antara 5-70 orang.






Kunjungan Kerja Komisi III DPRD Kabupaten Bangka Barat

diposting pada tanggal 17 Des 2016 21.59 oleh Info Hijau Lestari   [ diperbarui 26 Feb 2018 22.23 oleh Shinta Ratna Dewi ]

Selasa 29 November 2016, Bank Sampah Induk Hijau Lestari kembali menerima kunjungan ditengah 'repotnya' masa pindahan ke lokasi baru.

Kali ini menerima kunjungan kerja bapak-bapak dan ibu-ibu Komisi III DPRD Kabupaten Bangka Barat. Peserta yang berjumlah 10 orang terlihat sangat antusias ketika beraudiensi dengan pengurus pusat Hijau Lestari dan melihat-lihat bank sampah induk. Dalam kesempatan ini pun, hadir juga Camat Kiara Condong, Pak Tarya. Beliau memberikan sambutan dan pengantar tentang keberadaan Bank Sampah Induk HIjau Lestari.





MITOS vs SISTEM Bank Sampah

diposting pada tanggal 10 Feb 2016 01.32 oleh Shinta Ratna Dewi   [ diperbarui 22 Feb 2016 21.10 oleh Info Hijau Lestari ]


Hijau Lestari

Program Bank Sampah bak angin segar di tengah problematika sampah yang kerap dihadapi oleh kebanyakan kota besar di Indonesia. Adalah “sistem bank sampah” yang kini mencuat menjadi “primadona” baru program lingkungan berkelanjutan di beberapa daerah di Indonesia.
 
Sebelum “sang primadona” ditemukan dan disambut sorak sorai di atas “panggungnya” seperti saat ini, Ia telah melalui beragam dinamika (sebut saja : proses pencarian bentuk).

Ketika “sistem bank sampah”, sebagai “formula” baru dapat berjalan selaras dengan kebutuhan dan memberi nilai tambah ekonomis bagi masyarakat pelaku bank sampah, budaya “Membuang Sampah Sembarangan” pun sendirinya akan usang oleh jaman. Ia tergantikan oleh jargon “Sampah Jika Diolah, Akan Mendatangkan Berkah”.

Namun demikian, Sistem Bank Sampah masih harus dihadapkan dengan beragam “Mitos” Bank Sampah yang kerap dijumpai di masyarakat. Berikut adalah beberapa "mitos" tentang bank sampah, yang niscaya dapat terpatahkan oleh “Sistem” Bank Sampah.

***

1.   Bank Sampah adalah “bangunan” tempat penampungan sampah terpilah.

Hal ini tidak sepenuhnya benar. Ini adalah “Sistem Bank Sampah”, bukan sekedar “Bank Sampah” yang dipahami sebagai bangunan fisik. Adanya bangunan sifatnya hanya mendukung. Jadi bukan berarti jika tidak memiliki bangunan, maka sistem bank sampah tidak bisa dijalankan. Sekali lagi, ini adalah “sistem”. Niscaya bisa berjalan meski tidak memilliki bangunan khusus untuk bank sampah.

Kuncinya adalah, dalam sistem bank sampah, warga (nasabah) telah melakukan pemilahan sampah an organik menurut jenisnya sejak dari rumah.
Ini penting, untuk memberi kemudahan (mensiasati) tidak adanya bangunan (tempat) penampungan sampah terpilah, diantaranya:
  1. Setiap selesai sampah ditimbang sesuai jenis, pada proses pengepakan/pengemasan sampah terpilah dari seluruh nasabah, pengurus tinggal memasukkannya pada glangsing besar dan pengepul tinggal mengangkut saja. Akan beda kondisinya jika sampah tidak terpilah sejak dari rumah, akan memakan tempat dan waktu, sehingga sampah akan bertumpuk dalam waktu relatif lebih lama.
  2. Tidak adanya tempat penampungan (bangunan fisik) juga terpecahkan oleh adanya pengepul dengan jadwal pengambilan rutin dan terjadwal. Sehingga, lebih cepat sampah terangkut, lebih baik.
Dengan begini, “mitos” bahwa program bank sampah bisa berjalan jika ada tempat (bangunan fisik) penampungan sampah pun, terpatahkan!

2.   Bank Sampah baru bisa berjalan jika ada lahan kosong yang luas

Ini juga “mitos” yang pemahamannya mirip dengan anggapan bahwa program bank sampah membutuhkan “bangunan fisik” sebagai bank.Nyatanya, di beberapa wilayah (di gang sempit sekalipun), bisa menerapkan “sistem bank sampah”. Solusinya yaitu dengan menutup gang sementara (hanya dalam hitungan jam saja), selama proses bank sampah berjalan.

Hal ini sangat memungkinkan, mengingat proses bank sampah kebanyakan dilakukan hanya dua kali dalam sebulan (2 minggu sekali). Dalam hitungan jam, jika sampah sudah terpilah sejak dari rumah, maka makin cepat pula sampah dapat terangkut oleh pengepul. Sampah tidak akan menumpuk terlalu lama. Dengan begini, “mitos” bahwa program bank sampah bisa berjalan jika ada lahan kosong yang luas pun, terpatahkan!

3.   Masyarakat akan kesulitan atau “malas” memilah sampah sesuai jenis sejak dari rumah.

Awalnya, hal ini (memilah sampah) sepertinya hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki pemahaman, bahwa sampah dapat diolah jika dipilah, sehingga tidak mencemari llingkungan. Adanya sistem bank sampah, masyarakat niscaya mendapat “dorongan” lebih untuk memilah sampah sejak dari rumah. Karena hasil (rupiah) penjualan sampah akan dikembalikan pada “si pemilik sampah”, dalam bentuk tabungan.

Niscaya, nilai ekonomis yang didapat oleh “si pemilik sampah”, sebanding dengan upaya yang “hanya” semudah memasukkan sampah an organik ke wadah yang disediakan di tiap rumah. Daripada dibuang, lebih baik diolah agar jadi uang, bukan?

Dengan begini, “mitos” bahwa masyarakat akan kesulitan atau “malas” memilah sampah sesuai jenis sejak dari rumah pun, terpatahkan!

4.   Menjadi pengurus Bank Sampah adalah hal yang merepotkan

Anggapan demikian akan muncul, karena Anda belum mencoba menerapkan sistem bank sampah. Sebelum ada sistem bank sampah, masyarakat hanya mengumpulkan sampah an organik dalam kondisi tercampur. Sehingga memberatkan pengurus untuk urusan memilah sampah seluruh warga.

Di sistem bank sampah, nasabah membawa sampah sudah dalam kondisi terpilah (disendirikan menurut jenisnya). Niscaya, akan menyederhanakan tugas pengurus dari segi waktu dan tenaga. Terlebih, ada buku administrasi yang memudahkan pengurus mendata sampah yang ditabung. “Mitos” bahwa, menjadi pengurus Bank Sampah adalah hal yang merepotkan pun, terpatahkan!

5.   Administrasi Sistem Bank Sampah sulit dipahami dan dijalankan

Sistem Bank Sampah menggunakan 3 macam buku, yaitu Buku Tabungan Nasabah, Buku Besar dan Buku Register. Ketiganya adalah bagian dari “Sistem”. Buku Tabungan, bentuk dan isinya sama dengan bank pada umumnya, plus catatan jenis sampah apa saja yang dibawa nasabah ketika menabung. Jika Anda pernah menabung di bank, niscaya Anda akan dengan mudah mengisi Buku Tabungan Bank Sampah. Sedangkan pengisian Buku Besar, adalah tinggal memindahkan data di Buku Tabungan seluruh nasabah. Buku Register, hanyalah buku yang berisi data seluruh nasabah (Nama, Alamat, Nomor Induk, Jumlah Orang Tiap KK).

Itu saja, mudah bukan? Justru, adanya bentuk administrasi semacam ini, niscaya dapat menjaga kepercayaan antara nasabah dan pengurus. Jadi, “mitos” bahwa administrasi Sistem Bank Sampah sulit dipahami dan dijalankan pun, terpatahkan!

6.   Ada kekhawatiran jika sampah sudah terkumpul, lalu tidak ada yang mengambil

Pengepul sampah kering, niscaya tetap ada, terlepas ada atau tidak sistem bank sampah. Karena jual beli sampah, adalah “ladang bisnis” yang menguntungkan.

Menariknya sistem bank sampah, Ia tidak hanya memberi manfaat bagi nasabah, namun juga “keuntungan berlipat” bagi pengepul. Mengapa?

Karena dengan sistem bank sampah, akan “menyederhanakan” pekerjaan pengepul, diantaranya :
  1. Sampah sudah terpilah dan sudah terkumpul (di-packing) sesuai jenis di Bank Sampah.
  2. Sampah hasil pemilahan warga relatif kondisinya lebih bersih.
  3. Pengepul mendapatkan sampah terpilah secara rutin, dalam skala besar pula.

Kondisi ini, niscaya menjadi “daya tarik” pengepul untuk mendapat kesempatan mengangkut sampah di wilayah yang menerapkan sistem bank sampah.
Jadi “mitos” bahwa, ada kekhawatiran jika sampah sudah terkumpul, lalu tidak ada yang mengambil pun, terpatahkan!

***

Sistem Bank Sampah, lebih pada bagaimana sampah dikelola melalui alur yang sistematis. Mulai jejaknya dari hulu sampai hilir, hingga kemanfaatannya bagi masyarakat, lingkungan dan dampak sosialnya. Karena ini sebuah "sistem", niscaya bisa “beradaptasi” dan diterapkan secara efektif di berbagaikondisi wilayah yang beragam sekalipun.

Sistem Bank Sampah, juga menegaskan bahwa, “sampah” yang selama ini kerap dipandang sebelah mata, ternyata bisa diolah menjadi berkah. Nyatanya, beberapa anggapan bahwa program bank sampah sulit dijalankan, semua hanyalah“mitos” belaka. Dapat terpatahkan oleh “sistem” bank sampah. 

Menurut Anda, masih ada lagi kah "mitos" tentang bank sampah yang belum terpecahkan?

Kultwit Sampah Bukan Masalah, Sampah Penuh Manfaat

diposting pada tanggal 9 Feb 2016 21.00 oleh Shinta Ratna Dewi   [ diperbarui 22 Feb 2016 21.11 oleh Info Hijau Lestari ]


Hijau Lestari
  1. Sampah adalah Sisa kegiatan sehari-hari manusia dan atau proses alam yang berbentuk padat
  2. Permasalahan sampah di Indonesia sangat lah Konkrit dimana pengelolaan yang dilakukan masih belum optimal
  3. Dimana masih menggunakan pola lama, dimana sampah yang dihasilkan belum dipilah, hanya dicampur lalu di buang
  4. Padahal dengan memilah sampah, dapat di dapat nilai ekonomis yang ada
  5. Konsep pengelolaan sampah yang sedang berkembang di Indonesia Adalah pengelolaan sampah dengan konsep bank sampah
  6. Konsep Bank Sampah Menggunakan 5 M
  7. 1. Mengurangi sampah
  8.     Meminimalkan penggunaan tas plastik, Membiasakan membawa tas belanja dr rumah, Meminimalkan sisa makanan, Menggunakan sapu tangan/lap kain2
  9. 2. Memilah Sampah
  10. 3. Memanfaatkan Sampah
  11.     Memanfaatkan halaman balik kertas yang masih kosong, Memanfaatkan kertas bekas untuk amplop,
  12.     Memanfaatkan kaleng bekas untuk pot bunga, Memanfaatkan sisa makanan/sayuran untuk makanan ternak/ikan, dll
  13. 4. Mendaur Ulang Sampah
  14.     Mengolah sampah kertas menjadi kertas daur ulang/kerajinan, Mengolah bungkus bekas menjadi aneka kerajinan
  15.     Mengolah gabus styrofoam menjadi bataco, pot bunga dsb, Mengolah sampah kaca menjadi aneka bentuk seni dan alat rumah
  16.     Mengolah sampah organik menjadi kompos/pupuk, Mengolah kotoran ternak menjadi pupuk dan gasbio,
  17.     Mengolah daun kering, ranting tanaman menjadi briket bioarang
  18. 5. Menabung Sampah
  19. Cara  Mendirikan  Bank Sampah :
  20.     a. Melakukan sosialisasi berdirinya bank sampah 
  21.     b. Membentuk  pengelola bank sampah
  22.     c. Melatih pengelola  bank sampah 
  23.     d. Menyiapkan kelengkapan bank sampah 
  24.     e. Mencari pembeli sampah (rosok/pengepul)
  25.     f. Mempromosikan  berdirinya bank sampah
  26.     g. Melakukan pelayanan tabungan sampah sampah
  27.     h. Melakukan MONEV (monitoring dan evaluasi)
  28.     i.  Melakukan Sosialisasi Bank Sampah
  29.     j.  Penjelasan Teknis Pelayanan Menabung
  30.     k. Praktek Pelayanan Bagi Teller
  31.     l.  Pelatihan Bank Sampah
  32. Informasi ini diperoleh dari Sumber : Bambang Suwerda (pencetus Bank Sampah di Indonesia)
  33. Nah... hayu tweps, sudah bukan saatnya lagi kita berfikir sampah adalah masalah, tapi sampah membawa keberkahan buat kita... selamat mencoba!

1-4 of 4