Berita‎ > ‎

Bersama Hijau Lestari, Elis Solihat Kelola Bank Sampah

diposting pada tanggal 9 Feb 2016 02.59 oleh Shinta Ratna Dewi   [ diperbarui 22 Feb 2016 20.37 oleh Info Hijau Lestari ]

Elis Solihat berada di Bank Sampah Induk Hijau Lestari
BANDUNG (21/10/2015) - Kalimat tersebut menjadi misi dan mematik semangat Elis Solihat (42). Berawal dari benaknya yang terusik meratapi persoalan sampah di Kota Bandung, Elis putar otak untuk berkontribusi mengubah karakter masyarakat agar ramah terhadap sampah. Ibu empat anak ini memilih beraksi nyata ketimbang bersuara lantang memprotes pemerintah.

Pada 2013, Elis bersama sejumlah kerabatnya merintis LSM Hijau Lestari. Salah satu bidang yang digeluti yaitu bank sampah. Bank sampah merupakan sistem dalam pengelolaan sampah di lingkungan permukiman penduduk. Gerakan pendirian bank sampah ini gencar digulirkan Hijau Lestari ke segala penjuru mata angin Kota Bandung.

"Kami tidak menuntut pemerintah harus seperti apa soal sampah. Juga tak melakukan protes. Kami hanya berbuat apa yang harus dilakukan. Mungkin gerakan ini kecil dan belum solusi langsung menyelesaikan masalah sampah. Tapi ke depannya, bank sampah ini bisa bermanfaat," tutur Elis kepada detikcom di Bank Sampah Induk Hijau Lestari, Jalan Tubagus Ismail XIV No.1, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Rabu (21/10/2015).

Bank sampah berfungsi mengumpulkan sampah yang sudah dipilah dari warga atau penyetor selaku nasabah. Setiap nasabah mendapatkan buku tabungan. Ya, sistemnya seperti perbankan. Nantinya, nasabah bisa menabung sampah asal rumah tangga ke 'kantor' bank sampah yang berada di sekitar tempat tinggalnya. Pihak bank sampah tugasnya menerima, menimbang dan menghargai nominal sampah, lalu mencatat harga sampah yang disetor ke dalam buku tabungan milik nasabah.

"Nasabah bisa bebas kapan saja mengambil uang tabungannya. Tapi biasanya diambil menjelang dekat lebaran (Idul Fitri)," kata Elis.

Persoalan sampah di Bandung tentunya tanggung jawab bersama semua pihak. Bukan lagi mesti berkoar-koar menuding siapa salah dan mengklaim siapa benar. Penduduk Bandung berjumlah 2,7 juta jiwa diharapkan tidak menggantungkan penyelesaian sampah kepada PD Kebersihan Kota Bandung. Data PD Kebersihan menyebutkan volume sampah di kota berjuluk Paris van Java ini mencapai 1.500 ton per hari. Sampah yang diangkut ke TPA Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, mengeluarkan anggaran sebesar Rp 46 juta  untuk tipping fee dan Rp 16 juta untuk membayar KDL.

Maka itu, guna mengurangi volume sampah, sangat diharapkan peran masyarakat untuk memisahkan sampah organik dan non-organik. Kontribusi dan kepedulian LSM Hijau Lestari patut diapresiasi dalam membangkitkan warga mengelola sampah.

"Sistem bank sampah suatu proses. Intinya kami ingin mengubah karakter dan cara berpikir masyarakat soal proses memilah sampah," ujar Elis selaku Ketua LSM Hijau Lestari.

Pengelolaan sampah secara baik dan ramah, Elis menjelaskan, tentunya bermanfaat bagi kesehatan manusia. "Kehadiran bank sampah berperan mengurangi gas emisi rumah kaca. Nah, satu ton sampah padat itu menghasilkan 50 ribu klogram gas metan. Ingat, gas metan itu bahayanya 20 kali lipat dibandingkan karbondioksida. Kalau sampah dikelola, bisa mengurangi dampak iklim," ucap Elis.

Comments